You're here: My Travel Blogging » Sulawesi Selatan » Article: Upacara Adat Rambu Solo

Upacara Adat Rambu Solo

Amril Taufik Gobel — August 14, 2008 / 1:23 pm

A. Selayang Pandang

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam  roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah  tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di bagian  selatan tempat tinggal manusia. Upacara ini sering juga disebut upacara  penyempurnaan kematian. Dikatakan demikian, karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang  “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang  hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan  minuman, bahkan selalu diajak berbicara.

Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap upacara  ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi  arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa  pelindung (deata). Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo menjadi  sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan  mengadakannnya sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal  dunia. Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan  oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang  dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya.  Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara  24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah  50 ekor babi. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi  berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat  pendidikan dan kemampanan ekonomi. Saat ini, sudah banyak masyarakat Toraja  dari strata sosial rakyat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar  upacara ini. B. Keistimewaan

Puncak dari upacara Rambu Solo disebut  dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”.  Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu  menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan,  mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).

Selain itu, juga terdapat berbagai atrakasi  budaya yang dipertontonkan, di antaranya: adu kerbau (mappasilaga tedong), kerbau-kerbau yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih; dan  adu kaki (sisemba). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa  musik, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta  beberapa tarian, seperti pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan,  passailo dan pa‘pasilaga tedong.

Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara  yang sangat unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu menebas  leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara 10–50 juta perekor. Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang  bagaikan selendang raksasa membentang di antara pelayat tersebut. C. Lokasi

Kampung Bonoran, Desa Ke‘te‘ Kesu‘, Kecamatan  Kesu‘, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan,   Indonesia. D. Akses

Tana Toraja terletak sekitar 350 km di sebelah  utara Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Tana Toraja dapat  ditempuh dengan menggunakan jalur darat dan udara. Jalur darat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum selama kurang labih 8 jam, sedangkan  jalur udara ditempuh dengan penerbangan perintis selama 2 jam. Sesampainya di Tana  Toraja, pengunjung langsung menuju ke kota Kecamatan Rantepao. Dari kota  ini menuju Kampung Bonoran, perjalanan ditempuh dalam waktu 30 menit dengan  jarak sekitar 4 km dengan menggunakan kendaraan umum. E. Harga Tiket Masuk

Tarif tiket masuk ke lokasi  Rp. 5.000,00 untuk wisatawan lokal, dan Rp. 10.000,00 untuk wisatawan asing. (Bulan Februari 2008) F. Akomodasi dan Fasilitas

Di lokasi wisata, tersedia berbagai macam souvenir  khas Tana Toraja, seperti gantungan kunci, kalung, dan miniatur rumah adat Tana  Toraja (tengkonan).

Materi Posting ini dikutip dari sini

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. sandra

    Saya bangga menjadi orang Toraja,selain kebudayaan serta ada istiadat yang sangat unik,orang Toraja juga memiliki kepribadian yang ramah & bersahaja,meskipun saya di tanah rantau,tapi tetap kepikiran untuk balik ke Tana Toraja,Bravo,…please infonya,,,:menurut yang saya dgr dinas Pariwisata SULSEL akan mengadakan acara di Tana Toraja yang bertajuk “lovely desember”,tq

    November 6th, 2008 at 4:59 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • Erwin Prima — Halo mbak Nunik, Terima kasih atas tanggapannya. Tentunya menjadi traveler, perlu keberanian dan persiapan lebih, tapi, dalam hal ini kita sama-sama belajar. Hope u ...
  • » Finally… ~ Blog Archive ~ Bali (Asia Blogging Network) — [...] the bomber of Bali Bomb, Amrozi, Imam Samudera, and Ali Gufron were executed yesterday morning, at 00.15 WIB, in ...
  • yudha heryawan asnawi — Terimakasih atas informasinya tentang danau matano, kebetulan saya ada rencana kegiatan di sana.
  • sandra — Saya bangga menjadi orang Toraja,selain kebudayaan serta ada istiadat yang sangat unik,orang Toraja juga memiliki kepribadian yang ramah & bersahaja,meskipun ...
  • nunik — Met..pge mas erwin prima, dwie sangat terkesan dgn topik yg mas yg berjudul.. Apakah anda seorng traveler'' kayaknya sy hrs by belajar dari ...
  • LK — Test comment
  • agus heru — Benteng Fort Rotterdam panas dan gersang. Pada era tahun 80an, saya sering mengunjungi benteng ini. Di halamannya banyak tumbuh pohon2 besar dan ...
  • olyn — wwwoooowwww.....qrenn....pengen maen ne...kapaN ya?? sesuaian sama budget juga ne
  • faulina — sy tertarik dgn artikel bpk di atas. sy reporter dari sebuah program anak di Trans7. bisakah sy meminta nomor kontak ...
  • M3127IN — gw selalu kangen buat balik gi ke pantai ini... pantai ini punya kenangan manis buat gw^_^ suatu saat nanti gw berharap gw ...